Nilai tukar rupiah terhadap dolar diprediksi bergerak melemah akibat tekanan dari dolar Amerika Serikat (AS). Diprediksi, pelemahan rupiah kembali menyentuh batas atasnya Rp 9.200 per USD.
Mata uang nasional itu diprediksi masih akan berada di level Rp 9.195 – Rp. 9.215 per USD. Sementara faktor yang mempengaruhi adalah kondisi kebutuhan korporasi terhadap USD masih cukup tinggi.
Selain itu, faktor lain yang mempengaruhi nilai tukar rupiah terhadap dolar adalah membaiknya data fundamental AS, salah satunya adalah data unemployment AS yang lebih baik dari sebelumnya di level 392.000 menjadi 365.000 di bulan lalu.
Sebagaimana diketahui pada penutupan perdagangan Jumat (4/5) pekan lalu, rupiah menurut kurs tengah Bank Indonesia (BI) ditutup melemah di level Rp9.223 per USD. Adapun pelemahan rupiah ini disebabkan banyak global bond yang diterbitkan oleh pemerintah maupun sektor swasta.
Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Negara menerbitkan global bond berdenominasi dolar AS senilai USD 2,5 miliar pada akhir April 2012 lalu. Kemudian, PT Pertamina dan Exim Bank di bulan April lalu juga menerbitkan global bond berdenominasi USD.
Kondisi ini membuat banyak para pelaku pasar yang mengambil langkah menukarkan rupiahnya dengan USD dengan ekspektasi akan ada kebutuhan dari pemerintah maupun perusahaan yang menerbitkan global bond dalam hal pembayaran bunganya.
Selain faktor tersebut faktor lain disebabkan juga oleh data positif peningkatan belanja konsumen AS di bulan lalu. Berdasarkan data Departmen Perdagangan AS, belanja konsumsi rumah tangga yang menyumbang 70 persen terhadap ekonomi AS meningkat menjadi 0,3 persen setelah di bulan sebelumnya juga telah mengalami peningkatan 0,9 persen
Homepage





0 komentar
Posting Komentar